Sunday, June 25, 2023

PENDAFTARAN BEASISWA INDONESIA BANGKIT TAHUN 2023

Pendaftaran Beasiswa Gelar dan Beasiswa Non Gelar MOSMA 2023

Sehubungan dengan dibukanya Beasiswa Indonesia Bangkit 2023 sejak 5 Juni lalu, melalui pengumuman ini terdapat perpanjangan masa pendaftaran Beasiswa Indonesia Bangkit 2023. Hal ini dikarenakan tingginya animo dan antusiasme pendaftar Beasiswa Indonesia Bangkit. Adapun beasiswa yang diperpanjang adalah sebagai berikut:

  1. Program Beasiswa Gelar diperpanjang hingga 10 Juli 2023. Program Beasiswa Gelar adalah program beasiswa pendidikan untuk mendapatkan gelar akademik pada jenjang S1 (Sarjana), S2 (Magister), dan S3 (Doktor) pada perguruan tinggi di dalam negeri atau di luar negeri. Informasi lebih lanjut dapat dilihat di sini.
  2. Program Beasiswa Non Gelar: MORA Overseas Student Mobility Awards diperpanjang hingga 5 Juli 2023. Program MORA Overseas Student Mobility Awards (MOSMA) merupakan salah satu program implementasi Kurikulum Merdeka dalam bentuk program mobilitas fisik yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar di perguruan tinggi luar negeri. Program ini berlangsung selama 1 semester dengan durasi maksimal 6 bulan, melalui program ini mahasiswa mendapatkan kredit yang dapat dikonversi ke dalam SKS (Satuan Kredit Semester) di kampus asal. Informasi lebih lanjut dapat dilihat



Thursday, February 14, 2019

Terbaru!!! Hasil surve capres cawapres 2019 siapa menang?

Hasil survei beberapa lembaga menunjukkan angka mirip-mirip meski periode surveinya berbeda.
Contohnya survei 2 lembaga ini, angka popularitas kedua kubu sama-sama naik.

Persentase kenaikan pun mirip-mirip.
Survei Litbang Kompas pada 24 September 2018 - 5 Oktober 2018 misalnya, menunjukkan pasangan  Jokowi - Maruf Amin 52,6 persen dan Paslon 02 Prabowo Subianto - Sandiaga Uno menggaet 32,7 persen.
Pada periode survei berbeda yakni 16 - 26 Desember 2018, baik Paslon 01 maupun 02 menanjak pamornya.
Menurut survei lembaga riset Indikator, Jokowi - Maruf Amin  mendapatkan 54,9 persen.


Dan inilah hasil survei terbaru popularitas Capres Jokowi vs Prabowo, diumumkan CRC pada 10 Februari 2019.
Hasil survei Celebes Research Center (CRC) masih menunjukkan elektabilitas pasangan nomor 01, Joko Widodo atau Jokowi - Maruf Amin masih unggul dibanding Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.
Tercatat Jokowi - Maruf Amin unggul dengan perolehan 56,1 persen, dan pasangan 02 Prabowo Subianto - Sandiaga Uno 31,7 persen, dan tidak tahu atau tidak menjawab 12,2 persen.


Sementara, Prabowo Subianto - Sandiaga Uno naik 0,4 persen, dari 31,3 persen ke 31,7 persen.
 Dijelaskan, lingkup penelitian adalah seluruh rakyat Indonesia yang sudah memiliki hak pilih, yaitu berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah.

Jumlah sampel sebanyak 1.200 responden. Dengan metode penarikan sampel multistage random sampling dan memiliki toleransi kesalahan dugaan +/- 2,83 persen pada selang kepercayaan 95.0 persen.
Sampel berasal dari 34 Provinsi di Indonesia yang terdistribusi secara proporsional. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara tatap muka langsung (face to face) menggunakan kuisioner oleh pewawancara yang sudah terlatih.  
Waktu wawancara lapangan 23 - 31 Januari 2019. Quality control terhadap hasil wawancara dilakukan secara random.


Adapun tren elektabilitas di setiap pulau, dapat digambarkan:
Sumatera : 
Jokowi - Maruf Amin : turun dari 44,3  menjadi 37,6 persen. Sementara Prabowo Subianto - Sandiaga Uno : naik dari 37,1 menjadi 44,8 persen

Jawa :
Jokowi - Maruf Amin : naik dari 56,7 menjadi 57,2 persen. Sementara Prabowo Subianto - Sandiaga Uno : naik dari 32,0 menjadi 30,5 persen

Nusa Tenggara : Jokowi - Maruf Amin : sama dari 81,7 menjadi 81,7 persen. Sementara Subianto - Sandiaga Uno : naik dari 11,7 menjadi 18,3 persen
Kalimantan : Jokowi - Maruf Amin : naik dari 45,7 menjadi 61,7 persen. Sementara itu Prabowo Subianto - Sandiaga Uno : turun dari 34,3 menjadi 18,3 persen
Sulawesi : Jokowi - Maruf Amin : tetap dari 60,0 menjadi 60,0 persen. Sementara Subianto - Sandiaga Uno : naik dari 32,5 menjadi 33,8 persen
Maluku : Jokowi - Maruf Amin : turun dari 90,0 menjadi 60,0 persen. Sementara Subianto - Sandiaga Uno : naik dari 5,0 menjadi 40,0 persen
Papua : Jokowi - Maruf Amin : naik dari 80,0 menjadi 86,7 persen. Sementara Subianto - Sandiaga Uno : turun dari 20,0 menjadi 6,7 persen.
Selengkapnya Cek Hasil Perbandingan Elektabilitas Capres Paslon 01 vs Capres Paslon 02 berdasar polling 10 lembaga survei berbeda dengan periode survei berbeda-beda pula berikut ini.
Survei ini digelar pada rentang September 2018 hingga Januari 2019. (TribunStyle.com/*)


Artikel ini telah tayang di Tribunstyle.com dengan judul Hasil Survei Elektabilitas Capres 10 Lembaga, Cek Selisih Angka Jokowi - Maruf vs Prabowo - Sandiaga, http://style.tribunnews.com/2019/02/15/hasil-survei-elektabilitas-capres-10-lembaga-cek-selisih-angka-jokowi-maruf-vs-prabowo-sandiaga?page=4.
Penulis: Agung Budi Santoso
Editor: Agung Budi Santoso

Thursday, February 7, 2019

Deretan Keberhasilan Jokowi, Sukses membangun Indonesia, Jokowi berhasil membangun infrastruktur

4 Tahun Jokowi-JK, Ini 6 Klaim Keberhasilan Ekonomi " Setelah 50 tahun dimiliki pihak asing, Indonesia akhirnya menguasai 51 persen saham Freeport. Negosiasi panjang demi anak-anak negeri. Di Riau ada juga Blok Rokan dan Kaltim Blok Mahakam, ini jadi kado rakyat di 4 tahun Jokowi," kata Reinhard dalam konferensi pers, di Omah Kopi Gedung Joeang 45 Menteng Jakarta, Senin (22/10/2018)."





"Semenjak Maret 2018, tingkat kemiskinan tercatat sebagai yang terendah sepanjang masa, yakni 9,82%. Begitu juga dengan pengangguran terbuka yang hanya 5,13%. Kondisi ini menunjukkan bahwa rakyat semakin sejahtera karena semakin banyak yang bekerja." (http://www.tribunnews.com/nasional/2019/01/02/ini-keberhasilan-ekonomi-di-era-jokowi-jk)



"Dalam lima tahun pemerintahan Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla, telah terserap 8,7 juta orang dalam lapangan kerja," ujarnya. 

Thursday, September 20, 2018

Soal dan Jawaban Sosiologi Pendidikan

Soal UAS Sosiologi Pendidikan

1.        Salah satu Indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai kriteria untuk menentukan tingkat perkembangan suatu Bangsa adalah Educational Achievemen bangsa itu dibanding bangsa lain. Kaji dari sudut pandang sosiologi pendidikan! Bagaimanakah posisi Indonesia dibanding dengan bangsa lain di Asia Tenggara?
Jawab:
Berdasarkan data terbaru yang dirilis United Nations Development Programme (UNDP) beberapa waktu lalu menunjukkan, kualitas manusia Indonesia pada 2011 mengalami kenaikan tipis jika dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, jika dibandingkan dengan lima negara besar di kawasan Asia Tenggara (Asean), kualitas manusia di Indonesia berada di posisi bawah.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada pada level 0,617 pada tahun 2011 dengan posisi peringkat pada nomer 124 dari 187 negara di dunia. "IPM Indonesia tahun lalu berada pada level 0,613, tapi tahun ini meningkat tipis pada level 0,617," kata Staf Ahli Menkokesra Bidang Kreativitas dan Inovasi Teknologi Dr H TB Rahmad Sentika ketika berbicara dalam seminar kependudukan di Padang, Sabtu 26 November 2011.
Menurut salah seorang angggota Tim Ahli Komisi Perlindungan Anak Indonesia itu, jika dibandingkan dengan lima negara besar di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), maka kualitas manusia di Indonesia berada di posisi bawah "IPM Indonesia hanya unggul jika dibandingkan Vietnam yang memiliki nilai IPM 0,593, atau Laos dengan nilai 0,524, Kamboja 0,523, dan Myanmar dengan nilai IPM 0,483," katanya. Ia menambahkan, negara Singapura menduduki peringkat pertama di kawasan Asean untuk kualitas manusia dengan nilai IPM 0,866. "Selanjutnya IPM Brunei Darussalam dengan nilai 0,838, disusul Malaysia dengan IPM 0,761, Thailand dengan nilai 0,682, dan Filipina dengan nilai 0,644," katanya. Dia mengatakan, IPM itu mengukur pencapaian pembangunan manusia pada suatu negara dalam tiga dimensi dasar yang tercermin dalam taraf pendidikan, kesehatan, serta kemampuan daya beli. "Untuk indeks pendapatan 0,518, dan untuk indeks kesehatan 0,584, sektor pendidikan memberikan kontribusi sebanyak 0,584,".
Menurut dia, ada sedikit perbedaan dalam perhitungan indeks pendidikan Indonesia antara UNDP dan Kemdikbud. "Perhitungan sektor pendidikan versi UNDP menggunakan rata-rata lama sekolah 5,8 tahun diukur dari penduduk berusia 25 tahun ke atas, sedangkan Kemdikbud menggunakan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yaitu 7,9 tahun dan diukur dari penduduk berusia di atas 15 tahun," katanya.
UNDP ada perubahan, karena menggunakan variabel tidak di 15 tahun, tetapi di 25 tahun. "Yang (diukur) sudah berkeluarga dan bekerja, sehingga pendidikan dasar dan menengah menjadi tidak dihitung," katanya. Dia menambahkan, upaya yang dilakukan untuk meningkatkan waktu rata-rata lama sekolah adalah dengan meningkatkan akses dan mutu pendidikan anak usia dini (PAUD), meningkatkan partisipasi sekolah jenjang pendidikan dasar yang bermutu. "Juga, perlu meningkatkan akses dan mutu pendidikan menengah, meningkatkan akses dan daya saing pendidikan tinggi, serta meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan,"
Presiden Representative UNDP El Mostafa Benlamlih mengungkapkan, kendati mengalami peningkatan dibandingkan tahun lalu, pemerintah memiliki pekerjaan rumah yang harus dilakukan. Pemerintah perlu memerhatikan upaya-upaya untuk peningkatan di tiga sektor yakni pendidikan, kesehatan dan pendapatan yang lebih baik. "Agar bisa bersaing dengan dunia global,” ungkap Mostafa saat menggelar konferensi pers di Gedung Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Selasa (15/11/2011).
Menurutnya, kesenjangan yang perlu diminimalisir adalah pemerataan pembangunan di daerah yang hingga saat ini cenderung tidak seimbang. Hal ini penting untuk menarik investasi ke Indonesia. Untuk itu, pemerintah perlu meningkatkan kualitas sumber daya manusia daerah. “Orang di Jakarta dan daerah harus punya kesempatan yang sama,” katanya.
Mostafa juga menekankan pentingnya penguatan sektor pendidikan untuk mendorong peningkatan kualitas SDM. Dia meyakini, jika kualitas manusia dari sisi pendidikan terangkat, daya beli juga berpotensi terangkat.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) / Kepala Bappenas Armida Alisjahbana memaparkan, untuk indeks kesehatan manusia Indonesia tahun ini berada di level 0,779, index pendapatan 0,518, dan untuk index kesehatan 0,584.
Pemerintah mengklaim terus berupaya mengejar ketertinggalan IPM Indonesia dengan negara lain, minimal dalam satu kawasan. Pihaknya optimistis kualitas manusia Indonesia bisa diperbaiki dengan ditandai meningkatnya IPM Indonesia.
Menurut Armida, nilai indeks pembangunan manusia Indonesia sekarang 0,600. Nilai ini membuat Indonesia berada di peringkat ke 108 dari 169 negara yang disurvei oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Posisi Indonesia ini lebih baik dibandingkan tahun 2009 dengan skor 0,593.
Berdasarkan survei tersebut, Indonesia masuk daftar 43 negara berkategori "menengah." Dibandingkan dengan sejumlah negara tetangga di Asia Tenggara, Indonesia memang berada di bawah Singapura di peringkat 27 atau masuk kategori sangat tinggi dan Malaysia urutan 57 dengan kategori tinggi. Namun, Indonesia masih lebih unggul dari Vietnam (113), Laos (122) dan Myanmar (132).
Armida mengaku senang lantaran sejumlah indikator indeks pembangunan manusia memang menunjukkan perbaikan seperti ditargetkan dalam Tujuan Pembangunan Milenium. Armida pun membeberkan berbagai keberhasilan tersebut.
Pertama, tingkat kemiskinan ekstrim, yaitu proporsi penduduk yang hidup dengan pendapatan per kapita di bawah US$1 per hari, telah menurun dari 20,6 persen pada 1990 menjadi 5,9 persen pada 2008.
Kedua, hasil survei pada 2009 menyebutkan tingkat melek huruf penduduk di Indonesia mencapai 99,47 persen. Ketiga, terkait kesetaraan jender terlihat peningkatan rasio melek huruf perempuan terhadap laki-laki pada kelompok usia 15-24 tahun yang mencapai 99,85. Selain itu, kontribusi perempuan di sektor pekerjaan nonpertanian hingga kursi di parlemen mengalami peningkatan.
Keempat, angka kematian bayi menurun cukup signifikan dari 68 anak pada 1991 menjadi 34 anak per 1.000 kelahiran pada 2007.  Kelima, pada periode yang sama angka kematian ibu melahirkan menurun dari 390 menjadi 228 per 100 ribu kelahiran.
Keenam, angka terkena malaria per 1.000 penduduk menurun dari 4,68 pada 1990 menjadi 1,85 pada tahun 2009. Ketujuh, akses rumah tangga terhadap air minum layak dan sanitasi meningkat pesat, misalnya untuk air minum layak dari 37,73 persen pada 1993 menjadi 47,71 persen pada 2009.
"Dari berbagai capaian itu terlihat bahwa kesejahteraan masyarakat Indonesia meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi," kata Armida. Jika mengacu pada laporan Bank Pembangunan Asia (ADB) yang berjudul "The Rise of Asia's Middle Class 2010", tak bisa dipungkiri jumlah orang miskin, dengan pengeluaran di bawah US$2 per orang memang menurun.
Sebaliknya, jumlah kelompok kelas menengah Indonesia dengan pengeluaran di atas US$2 per orang meningkat pesat selama 10 tahun terakhir. Jika pada 1999 kelompok kelas menengah atas baru sekitar 25 persen atau 45 juta jiwa, namun satu dekade kemudian melonjak jadi 42,7 persen atau 93 juta jiwa.
Perbaikan kualitas hidup warga Indonesia ini juga menjadi perhatian lembaga pemeringkat, Moodys Investor Service yang Rabu ini berkunjung ke Bappenas. "Moodys melihat bagaimana pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium yang semakin baik di Indonesia, meski ada masalah pengangguran terdidik yang cukup tinggi," kata Sekretaris Menteri PPN Syahrial Loetan, 8 Desember 2010.
Membaiknya peringkat Indonesia dalam soal Indeks Pembangunan Manusia, hanya satu dari sejumlah keberhasilan lainnya. Selain indeks tersebut, Indonesia juga mengalami sejumlah perbaikan yang lain.
Misalnya, posisi daya saing Indonesia meningkat dari posisi 53 pada 2009 menjadi peringkat 44 dari 139 negara pada tahun ini menurut Global Competitiveness Index terbitan September 2010. Selain itu, United Kingdom Trade and Investment juga menaikkan ranking Indonesia sebagai negara tujuan investasi selain negara-negara Brazil, Rusia, India dan China (BRIC) dari posisi ke-6 menjadi posisi ke-2.
Demikian halnya dengan perbaikan peringkat utang Indonesia oleh sejumlah lembaga pemeringkat, penurunan rasio utang terhadap produk domestik bruto, peningkatan cadangan devisa, kenaikan ekspor secara signifikan hingga soal pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat.
Menurut Syahrial Loetan "Indonesia berniat terus meningkatkan anggaran infrastruktur dari waktu ke waktu untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi mencapai 7 persen pada 2014 mendatang,"

2.        Dari berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa status social ekonomi seseorang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar seseoarang. Kaji kebenaran pernyataan tersebut secara sosiologis! Beri contoh fenomena kejadian dilapangan!
Jawab:
Pengertian Belajar:
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan  merupakan unsur yang sangat fundamental dalam  setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri. (Muhibbin Syah, 2003: 89).
Menurut Witherington, dalam buku Educational Psychology  mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi  yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian, atau suatu pengertian.(Dalyono, 2005: 211)
Skinner, seperti yang dikutip Barlow (1985) dalam bukunya Educational Psychology: the Teaching-Learning Process, berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Pendapat ini diungkapkan dalam pernyataan ringkasnya  bahwa belajar adalah … a process of progressive behaviour adaptation.
Dari definisi-definisi yang dikemukakan di atas, dapat dikemukakan adanya beberapa elemen yang penting yang mencirikan pengertian tentang belajar, yaitu:
1.      Belajar merupakan suatu perilaku.
2.      Belajar membawa suatu perubahan dalam perilaku
3.      Perubahan prilaku itu dapat bersifat aktual, yaitu nampak tetapi juga dapat     bersifat potensial yang tidak nampak  pada saat itu, tetapi akan Nampak di lain kesempatan.
4.      Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau      pengalaman.
5.      Tingkah  laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek baik segi kognitif, afektif maupun psikomotor.
6.      Perubahan yang terjadi  karena usaha yang disengaja.
7.      Perubahan yang terjadi merupakan perubahan positif yang menuju kearah ke arah perbaikan atau kemajuan
Prestasi Belajar:
Menurut Catharina (2006) prestasi belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajaran setelah mengalami aktivitas belajar. Tidak semua perubahan tingkah laku dapat dikategorikan sebagai suatu hasil belajar. Ada beberapa persyaratan, sehingga suatu perolehan perubahan tingkah laku baru dapat diartikan sebagai hasil belajar. Persyaratan itu adalah bahwa hasil belajar itu merupakan pencapaian dari suatu tujuan belajar. Hasil belajar itu merupakan usaha dari kegiatan yang disadari, belajar itu sendiri merupakan proses latihan yang berfungsi efektif untuk jangka waktu tertentu dan hasil belajar itu perlu, karena berfungsi positif bagi tingkah laku lain.
Dari penjelasan diatas maka dapat disimpulkan suatu perubahan tingkah laku dikategorikan sebagai hasil belajar, jadi hasil belajar itu harus membawa perubahan dan perubahan itu terdapat dalam keadaan sadar dan disengaja, dan bentuk dari hasil belajar itu dapat berupa pengetahuan, keterampilan ataupun nilai-nilai hidup, namun dalam penelitian ini yang dimaksud dengan “Prestasi Belajar” adalah informasi nilai yang menunjukkan tingkat ketercapaian tujuan pembelajran yang telah ditetapkan dalam garis-garis program pembelajaran
Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar.

Arden N Frandsen dalam Suryabrata Sumadi (1995:253) mengatakan bahwa hal yang dapat mendorong manusia atau seseorang untuk belajar karena sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang luas, sifat yang kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk selalu maju, keinginan untuk mendapatkan simpati dari teman-teman, orang tua dan guru, keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru, adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila menguasai pelajaran dan ganjaran atau hukuman sebagai akhir daripada belajar.
Menurut slameto, secara umum faktor yang mempengaruhi belajar adalah faktor intern dan faktor ekstern Slameto (2003:54).
a. Faktor intern meliputi, faktor jasmaniah, kelelahan dan psikologis.
Faktor jasmaniah meliputi faktor kesehatan dan cacat tubuh. Faktor kelelahan meliputi kelelahan jasmani dan rohani, sedangkan faktor psikologis meliputi:
1) Intelegensi
Intelegensis adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis kecakapan, yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui/ menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektir, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat, (Slameto, 2003). Jadi intelegensi adalah kesanggupan seseorang untuk beradaptasi dalam berbagai situasi dan dapat diabstraksikan pada suatu kualitas yang sama.
2) Minat
Menurut Hilgard dalam Slameto (2003) minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus menerus disertai dengan rasa senang dan dari situ diperoleh kepuasan. Jadi minat adalah sesuatu yang timbul karena keinginan sendiri tanpa adanya paksan dari orang lain atau kecenderungan jiwa seseorang kepada sesuatu yang biasanya disertai dengan perasaan senang.
3) Bakat
Menurut Hilgard dalam Slameto (2003) bakat adalah kemampuan untuk belajar. Jadi bakat adalah kemampuan yang dimiliki oleh siswa sejak lahir diperoleh melalui proseses genetik yang akan terealisasi menjadi kecakapan sesudah belajar. Anak dapat menyalurkan bakat atau yang dimilikinya, sehingga hal ini dapat menggali potensi yang dimiliki agar dapat meningkatkan potensi diri anak.
4) Motivasi
Motivasi adalah motif yang sudah aktif, saat orang melakukan suatu aktivitas, (Darsono, 2000). Jadi motivasi adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dalam kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.

b. Faktor ekstern meliputi faktor keluarga, sekolah, masyarakat.
Faktor keluarga meliputi,
1) Cara mendidik, orang tua yang memanjakkan anaknya, maka setelah anak sekolah akan menjadi siswa yang kurang bertanggung jawab dan takut menghadapi tantangan kesulitan. Juga orang tua yang terlalu keras mendidik anak mengakibatkan anak menjadi penakut.
2) Suasana keluarga, hubungan keluarga yang kurang harmonis, menyebabkan anak kurang semangat untuk belajar. Suasana yang menyenangkan, akrab dan penuh kasih sayang akan memberi motivasi yang mendalam.
3) Pengertian orang tua, anak dalam belajar perlu dorongan dan pengertian orang tua. Bila anak sedang belajar jangan diganggu tugas-tugas rumah. Apabila anak mengalami kesulitan di sekolah diharapkan orang tua untuk membantu memecahkan kesulitan tersebut, orang tua memberi dorongan semangat kepada anaknya.
4) Keadaan sosial ekonomi keluarga, anak dalam belajar kadang-kadang memerlukan sarana yang kadang-kadang mahal. Bila keadaan ekonomi keluarga tidak mencukupi, dapat menjadi penghambat anak dalam belajar.
5) Latar belakang kebudayaan, tingkat pendidikan atau kebiasaan di dalam keluarga, mempengaruhi sikap anak dalam belajar. Perlu ditanamkan kepada anak kebiasaan-kebiasaan yang baik agar mendorong semangat anak dalam belajar.

Faktor yang berasal dari sekolah meliputi:
1) Interaksi guru dengan murid.Guru yang kurang berinteraksi dengan murid menyebabkan proses belajar mengajar kurang lancar arena siswa merasa jauh dengan guru, sehingga siswa akan segan beradaptasi secara aktif dengan guru.
2) Cara penyajian. Guru menggunakan beberapa metode dapat membantu meningkatkan kegiatan belajar mengajar dan meningkatkan kegiatan belajar mengajar serta minat siswa untuk belajar.
3) Hubungan antar murid. Guru harus mengendalikan kelas supaya dapat bekerja sama dengan siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
4) Standar pelajaran di atas ukuran, maksudnya guru berpendirian untuk mempertahankan wibawanya dengan memberikan pelajaran di atas ukuran standar. Akibatnya, anak merasa kurang mampu dan takut kepada guru. Guru dalam menuntut penguasaan kepada murid harus sesuai dengan kemampuan siswa masing-masing, yang penting tujuan yang dirumuskan dapat tercapai.
5) Media pendidikan. Jumlah alat bantu mengajar akan menentukan lancar tidaknya kegiatan belajar mengajar. Antara lain seperti buku di perpustakaan, peralatan alat laboratorium atau media lainnya.
6) Kurikulum. Sistem intruksional sekarang menghendaki proses belajar mengajar yang mementingkan kebutuhan siswa. Guru perlu mendalami materi dengan baik, harus mempunyai perencanaan agar dapat melayani siswa secara individual.
7) Metode belajar, banyak siswa melakukan cara belajar yang salah. Kadang-kadang siswa belajar tidak teratur. Belajar teratur setiap hari dengan pembagian waktu yang tepat dan cukup istirahat akan meningkatkan hasil belajar.
8) Tugas rumah, guru jangan terlalu banyak memberikan tugas rumah, sehingga anak tidak mempunyai waktu untuk belajar ataupun kegiatan lain.
9) Keadaan gedung. Banyaknya siswa dalam satu ruang kelas dapat mengakibatkan ketidak efektifannya kegiatan belajar mengajar berlangsung.
10) Waktu sekolah. Akibat meledakanya jumlah anak yang masuk sekolah dan penambahan gedung sekolah yang kurang, akibatnya ada pembagian dalam kelas yaitu kelas pagi dan kelas sore.
11) Pelaksaan disiplin. Untuk mengembangkan motivasi yang kuat, proses belajar siswa perlu disiplin.



Faktor yang datang dari masyarakat meliputi :
1) Media massa, kadang anak membaca buku selain buku pelajaran, sehingga lupa akan tugas belajar. Maka bacaan anak perlu diawasi dan diseleksi.
2) Teman bergaul, untuk mengembangkan sosialisasinya, anak perlu bergaul dengan anak lain, tetapi perlu diawasi agar jangan sampai mendapatkan teman bergaul yang kurang baik pengaruhnya, karena perbuatan yang kurang baik akan mudah menular pada orang lain.
3) Cara hidup lingkungan , cara hidup lingkungan sekitar besar pengaruhnya pada pertumbuhan anak.
Berdasarkan uraian-uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu kegiatan yang bertujuan  mengadakan perubahan di dalam diri seseorang, yang mencakup perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahan dan keterampilan.
            Perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar dapat berupa kognitif, afektif dan psikomotor dengan melalui beberapa tahapan belajar.
            Keberhasilan belajar seseorang  tidak terlepas dari pengaruh dari diri sendiri maupun dari luar diri individu. Jadi, karena pengaruh faktor-faktor tersebutlah akan muncul siswa-siswi yang berprestasi  tinggi dan rendah atau gagal sama sekali.
Keluarga dengan pendapatan cukup atau tinggi pada umumnya akan lebih mudah memenuhi segala kebutuhan sekolah dan keperluan lain. Berbeda dengan keluarga yang mempunyai penghasilan relatif rendah, pada umumnya mengalami kesulitan dalam pembiayaan sekolah, begitu juga dengan keperluan lainnya. Menurut Hamalik (1983) keadaan sosial ekonomi yang baik dapat yang menghambat ataupun mendorong dalam belajar. Masalah biaya pendidikan juga merupakan sumber kekuatan dalam belajar karena kurangnya biaya pendidikan akan sangat mengganggu kelancaran belajar. Salah satu fakta yang mempengaruhi tingkat pendidikan anak adalah pendapatan keluarga. Tingkat sosial ekonomi keluarga mempunyai pengaruh yang tinggi terhadap prestasi belajar siswa di sekolah, sebab segala kebutuhan anak yang berkenaan dengan pendidikan akan membutuhkan sosial ekonomi orang tua.
Berikut Contoh Hasil Penelitian Lapangan, tentang tingkat sosial ekonomi terhadap prestasi belajar di SMA Negeri 1 Banyuasin II Sungsang. Data diambil dari hasil penelitian tentang “Pendapat Masyarakat Kelas Bawah Tentang Pendidikan” (Potret Pendidikan Nelayan)

 

Prestasi Belajar Siswa di SMA N 1 Sungsang

 













                   Keadaan sosial ekonomi keluarga dapat ditinjau dari segi tingkat pendidikan keluarga, jenis pekerjaan orang tua siswa, pemilikan kekayaan atau fasilitas orang tua, kondisi fisik tempat tinggal, dan kondisi lingkungan tempat tinggal. Tingkat pendidikan dalam penelitian ini meliputi pendidikan yang ditempuh oleh orang tua siswa baik pendidikan formal maupun pendidikan nonformal. Responden ayah mengikuti pendidikan formal 10 orang responden semuanya hanya tamat SD (Sekolah Dasar). Hal ini membuktikan bahwa tingkat pendidikan orang tua dalam kondisi yang kurang baik. Kesadaran orang tua siswa yang tidak mengikuti pendidikan formal juga tidak mengikuti pendidikan nonformal dalam bentuk kursus baik yang diikuti ayah maupun ibu. Sehingga sebagian besar tidak memiliki keahlian dalam dunia kerja kecuali hanya melaut.
Pada umumnya pendapatan yang cukup atau tinggi akan lebih mudah memenuhi segala kebutuhan sekolah dan keperluan lain, berbeda dengan keluarga yang mempunyai penghasilan relatif rendah, pada umumnya mengalami kesulitan dalam pembiayaan sekolah, begitu juga dengan keperluan lainnya. Tingkat pendapatan akan dikatakan cukup atau tinggi dalam penelitian ini apabila pendapatan mencapai lebih dari 1 juta perbulan (lihat tabel 1.)
Tabel. 1.
No.
Pekerjaan
Jumlah
Pendapatan
1
PNS
2 orang
2 jt  s/d 3 jt / bulan
2
Nelayan
315 orang
1 jt s/d 2 jt /bulan
3
Pedagang       
14 orang
2 jt s/d 5 jt / bulan
4
Wiraswasta     
12 orang
1 jt s/d 2,5 jt / bulan
5
Petani
14 orang
1 jt s/d  2 jt / bulan

Jumlah
357 orang


Dari Tabel diatas dapat terlihat bahwa mata pencarian orang tua siswa bervariasi, dari nelayan sampai dengan petani. Ternyata mata pencarian orang tua siswa sekitar 315 orang terdiri dari nelayan, selebihnya yaitu sekitar separuhnya, adalah Pedagang, Wiraswasta, PNS, dan Petani. Dari 50 persen mata pencarian orang tua murid adalah nelayan. Dari hasil penelusuran, ternyata diantara mereka lebih banyak nelayan tradisional dan buruh nelayan (nelayan kelas bawah) dibandingkan dengan nelayan modern (mengunakan boat) yang menyekolahkan anaknya. Hal ini berarti baik nelayan modern maupun tradisonal dan buruh nelayan, menginginkan anaknya bersekolah.
Namun karena kondisi dan kebutuhan nelayan itu sendiri, siswa yang drop out banyak berasal dari anak nelayan tradisional. Hasil penelitian menjelaskan bahwa alasan penting dari tingginya angka putus sekolah antara lain adalah keadaan sosial ekonomi masyarakat yang rendah, sekolah ternyata kurang menarik, kurangnya perhatian orang tua terhadap sekolah anaknya, bermain dengan anak-anak yang tidak sekolah, ada diantara masyarakat ada yang tidak mengerti apa manfaatnya jika anak-anaknya sekolah, dan sebagainya. Variasi alasan anak putus sekolah ini semakin menarik, karena bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga factor lingkungan sosial, dan mungkin juga membosankan.
Kepemilikan kekayaan atau fasilitas orang tua berhubungan dengan fasilitas yang dapat menunjang siswa dalam belajar karena siswa akan termotivasi apabila orang tua memberikan segala sesuatunya dalam kaitanya dengan fasilitas belajar agar dapat meningkatkan hasil belajarnya. Orang tua yang memiliki kondisi soial ekonomi cukup dalam kategori baik dibuktikan dengan kepemilikan Perahu  Nelayan (bukan sewa). dan berbeda dengan orang tua yang tidak memiliki Perahu Nelayan sendiri berarti mereka masih tergolong dalam kondisi sosial ekonomi yang tidak baik.
Kondisi keluarga dikatakan kurang baik dalam penelitian ini dengan kaitannya kondisi fisik tempat tinggal, bahwa keluarga di sekitar tempat tinggal responden yang rumahnya terbuat dari kayu. Sebagian besar responden memiliki jenis tempat tinggal tidak permanen. Keadaan sosial ekonomi yang rendah dapat menghambat ataupun mendorong siswa dalam belajar, dan sebaliknya keadaan sosial budaya yang tinggi dapat menciptakan siswa semangat untuk belajar di sekolah.
Pengaruh Kondisi Sosial Ekonomi Terhadap Prestasi Belajar
Keluarga yang mempunyai pendapatan cukup atau tinggi pada umumnya akan lebih mudah memenuhi segala kebutuhan sekolah dan keperluan lain sehingga anak akan termotivasi dalam belajar. Berbeda dengan keluarga yang mempunyai penghasilan relatif rendah, pada umumnya mengalami kesulitan dalam pembiayaan sekolah, begitu juga dengan keperluan lainnya hal ini dapat menurunkan semangat anak untuk belajar. Dengan kata lain Keadaan sosial ekonomi keluarga dapat mempengaruhi hasil belajar anak.
Pada tabel. 1 menunjukkan bahwa sebagian besar kondisi sosial ekonomi orang tua (nelayan) tergolong kurang baik, Hal ini dapat membuktikan bahwa dengan keadaan sosial ekonomi orang tua siswa yang kurang baik maka prestasi yang dicapai siswa juga kurang baik. Salah satu fakta yang mempengaruhi tingkat pendidikan anak adalah pendapatan keluarga. Tingkat sosial ekonomi keluarga mempunyai pengaruh yang tinggi terhadap prestasi belajar siswa di sekolah, sebab segala kebutuhan anak yang berkenaan dengan pendidikan akan membutuhkan sosial ekonomi orang tua. Berdasarkan hasil penelitian dan perhitungan dapat diketahui tinggkat pendapatan dan pendidikan orang tua yang rendah menjadi faktor Utama penyebab anak putus sekolah.

3.        Bagaimana teori fungsionalis dan teori konflik membahas peran pendidikan dalam proses stratifikasi? Ingat dasar-dasar berfikir yang melandasi munculnya teori tersebut!
Jawab:
A.      Pengertian Stratifikasi Sosial Menurut Para Ahli
1.       Pitirim A. Sorokin
Stratifikasi sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis). Perwujudannya adalah adanya lapisan-lapisan di dalam masyarakat. Setiap lapisan itu disebut dengan strata sosial. Ditambahkan bahwa stratifikasi sosial merupakan ciri yang tetap pada setiap kelompok sosial yang teratur. Lapisanlapisan di dalam masyarakat memang tidak jelas batasbatasnya, tetapi tampak bahwa setiap lapisan akan terdiri atas individu-individu yang mempunyai tingkatan atau strata sosial yang secara relatif adalah sama.
2.       P.J. Bouman
Stratifikasi sosial adalah golongan manusia dengan ditandai suatu cara hidup dalam kesadaran akan beberapa hak istimewa yang tertentu dan karena itu menuntut gengsi kemasyarakatan.
3.       Soerjono Soekanto
Stratifikasi sosial adalah pembedaan posisi seseorang atau kelompok dalam kedudukan yang berbeda-beda secara vertikal.
4.       Bruce J. Cohen
Stratifikasi sosial adalah sistem yang menempatkan seseorang sesuai dengan kualitas yang dimiliki dan menempatkan mereka pada kelas sosial yang sesuai.
5.       Paul B. Horton dan Chester L. Hunt
Stratifikasi sosial adalah sistem perbedaan status yang berlaku dalam suatu masyarakat.

B.      Pengertian Sosialisasi Menurut Para Ahli
1.       Makionis (1997)
Sosialisasi sebagai pengamatan sosial sepanjang hidup yang memungkinkan manusia mengembangkan potensi kemanusiaannya dan mempelajari pola-pola kebudayaan.
2.       Harton dan Hunt (1987-1989 )
Sosialisasi sebagai proses dimana seseorang internalisasikan norma-norma kelompok tempat hidup, sehingga berkembang menjadi satu pribadi yang unik.
3.       Giddens (1994:60)
Sosialisasi sebagai sebuah proses yang terjadi ketika seorang bayi yang lemah berkembang secara aktif melalui tahap demi tahap sampai akhirnya menjadi pribadi yang sadar akan dirinya sendiri pribadi yang berpengetahuan dan terampil akan cara hidupnya dalam kebudayaan tempat iatinggal.
4.       Ritcher JR (1987 : 139)
Sosialisasi adalah proses seseorang memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperlakukannya agar dapat berfungsi sebagai orang dewasa dan sekaligus sebagai pemeran aktif dalam suatu kedudukan atau peranan tertentu di masyarakat.
5.       Stewart (1985:93)
Sosialisasi adalah proses orang memperoleh kepercayaan sikap nilai dan kebiasaan dalam kebudayaan. Melalui proses sosialisasi akan tumbuh satu pribadi yang hak karena sifat-sifat kelompok tidak pernah diserap secara sama oleh masing-masing anggota kelompok.


C.       Pengertian (social mobility) mobilitas sosial menurut beberapa ahli sosiologi :
1.       Michael S. Basis (1988: 276)
Mobilitas sosial adalah perpindahan ke atas atau ke bawah lingkungan  sosio ekonomi yang mengubah status sosial seseorang dalam masyarakat.
2.       H. Edward Ransford (Sunarto, 2001: 108)
Mobilitas sosial adalah perpindahan ke atas atau ke bawah dalam lingkungan sosial secara hierarki.
3.       William Kornblum (1988: 172)
Mobilitas sosial adalah perpindahan individu-individu, keluarga-keluarga, dan kelompok sosialnya dari satu lapisan ke lapisan sosial lainnya.
4.       Kimball Young dan Raymond W. Mack (Soekanto, 2001: 275)
Mobilitas sosial adalah suatu mobilitas dalam struktur sosial, yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial.
5.       Paul B. Horton
Mobilitas sosial adalah suatu gerak perpindahan dari satu kelas sosial ke kelas sosial lainnya atau gerak pindah dari strata yang satu ke strata yang lainnya.
Jadi, mobilitas sosial adalah suatu perubahan atau perpindahan kelas sosial, baik ke atas maupun ke bawah, yang dialami oleh individu atau kelompok sosial, sehingga memberikan dampak berupa kelas baru yang diperoleh individu atau kelompok
D.       Pengertian equality of opportunity menurut ahli:
1.       Paul de Vries
adalah ketentuan bahwa semua orang harus diperlakukan sama, dihalangi oleh hambatan buatan atau prasangka atau preferensi, kecuali saat tertentu "perbedaan dapat secara eksplisit dibenarkan.



Teori Konflik ( Conflict Theory )
ASUMSI DASAR
1.         Masyarakat senantiasa berada di dalam proses perubahan yang tidak pernah berakhir. Proses perubahan masyarakat adat sederhana menjadi modern.
2.         Masyarakat mengandung konflik di dalam dirinya (konflik antar individu, antar kelompok, individu dengan kelompok).
3.         Setiap unsur dalam masyarakat memberikan sumbangan terjadinya disintegrasi / perubahan sosial (sosek : perbedaan tingkat kemakmuran, status sosial, budaya : pruralisme etnis, agama, politik : simbolisme ketidak adilan).
Menurut pandangan teori ini, pertentangan atau konflik bermula dari pertikaian kelas antara kelompok yang menguasai modal atau pemerintahan dengan kelompok yang tertindas secara materiil, sehingga akan mengarah pada perubahan sosial. Teori ini memiliki prinsip bahwa konflik sosial dan perubahan sosial selalu melekat pada struktur masyarakat.
Teori ini menilai bahwa sesuatu yang konstan atau tetap adalah konflik sosial, bukan perubahan sosial. Karena perubahan hanyalah merupakan akibat dari adanya konflik tersebut. Karena konflik berlangsung terus-menerus, maka perubahan juga akan mengikutinya. Dua tokoh yang pemikirannya menjadi pedoman dalam Teori Konflik ini adalah Karl Marx dan Ralf Dahrendorf.
Teori konflik versi Dahrendorf. Beberapa konsep dasar pandangan teori konflik Dahrendorf dalam memahami fenomena sosial, antara lain: (1) setiap masyarakat setiap saat tunduk pada proses perubahan. Berbagai elemen kemasyarakatan menyumbang terhadap disintegrasi dan perubahan. Apapun keteraturan yang terdapat dalam masyarakat berasal dari pemaksaan terhadap anggotanya oleh mereka yang berada di lapisan atas; (2) teori konflik menekankan peran kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban dalam masyarakat; (3) bahwa masyarakat mempunyai dua wajah, yaitu konflik dan konsensus Bahwa masyarakat tidak ada tanpa konsensus dan konflik, keduanya menjadi persyaratan satu sama lain. Kita tak akan punya konflik kecuali ada konsensus sebelumnya, sebaliknya konflik dapat menimbulkan konsensus dan integrasi; (4) ‘bahwa perbedaan distribusi otoritas selalu menjadi faktor yang menentukan konflik sosial sistematis. Bahwa berbagai posisi di dalam masyarakat mempunyai kualitas yang beragam. Otoritas tidak terletak di dalam individu, tetapi melekat pada posisi. Otoritas yang melekat pada posisi adalah unsur kunci dalam analisis fenomena sosial; (5) otoritas individu ini tunduk pada kontrol yang ditentukan masyarakat. Karena otoritas adalah absah, sanksi dapat dijatuhkan pada pihak yang menentang; (6) masyarakat terlihat sebagai asosiasi individu yang dikontrol oleh hierarki posisi otoritas; (7) hubungan konflik dengan perubahan adalah bahwa konflik merupakan realitas sosial, dan konflik berfungsi sebagai penyebab terjadinya perubahan dan perkembangan (konflik yang hebat akan membawa perubahan dalam struktur sosial) (Abraham, F.M. 1982; Ritzer dan Goodman, 2003)..Masih banak cirri teori konflik Karl Marx, dan teori neokonflik.
Dari beberapa pokok pandangan atau asumsi teori konflik tersebut dapat diambil pemahaman bahwa sesuatu fenomena sosial dikatakan sebagai masalah (problem) sosial apabila: (a) sesuatu itu tidak sesuai dengan kebijakan otoritas penguasa yang berfungsi untuk mempertahankan ketertiban masyarakat; (b) otoritas aktor (individu) tidak tunduk pada kontrol yang ditentukan oleh masyarakat; dan (c) perubahan sosial yang terjadi bersifat evolusi, sehingga kurang menciptakan dinamika kehidupan sosial.




Teori Fungsionalis ( Functionalist Theory )
Konsep yang berkembang dari teori ini adalah cultural lag (kesenjangan budaya). Konsep ini mendukung Teori Fungsionalis untuk menjelaskan bahwa perubahan sosial tidak lepas dari hubungan antara unsur-unsur kebudayaan dalam masyarakat. Menurut teori ini, beberapa unsur kebudayaan bisa saja berubah dengan sangat cepat sementara unsur yang lainnya tidak dapat mengikuti kecepatan perubahan unsur tersebut. Maka, yang terjadi adalah ketertinggalan unsur yang berubah secara perlahan tersebut. Ketertinggalan ini menyebabkan kesenjangan sosial atau cultural lag .
Para penganut Teori Fungsionalis lebih menerima perubahan sosial sebagai sesuatu yang konstan dan tidak memerlukan penjelasan. Perubahan dianggap sebagai suatu hal yang mengacaukan keseimbangan masyarakat. Proses pengacauan ini berhenti pada saat perubahan itu telah diintegrasikan dalam kebudayaan. Apabila perubahan itu ternyata bermanfaat, maka perubahan itu bersifat fungsional dan akhirnya diterima oleh masyarakat, tetapi apabila terbukti disfungsional atau tidak bermanfaat, perubahan akan ditolak. Tokoh dari teori ini adalah William Ogburn.
Secara lebih ringkas, pandangan Teori Fungsionalis adalah sebagai berikut.
a)        Setiap masyarakat relatif bersifat stabil.
b)        Setiap komponen masyarakat biasanya menunjang kestabilan masyarakat.
c)        Setiap masyarakat biasanya relatif terintegrasi.
d)       Kestabilan sosial sangat tergantung pada kesepakatan bersama (konsensus) di kalangan anggota kelompok masyarakat.
Menurut teori ini, masyarakat  merupakan suatu system social, yang terdiri atas bagian-bagian yang saling berkaitan. Dan saling menyatu dalam keseimbangan. Maka perubahan yang terjadi pada suatu bagian, akan membawa perubahan pada bagian yang lain. Dalam pengertian apa yang fungsional pada suatu kelompok bisa tidak fungsional pada kelompok yang lain. Struktural fungsional percaya bahwa masyrakat akan mengarah pada titik ekuilinrium dan tatanan sosial. Masyarakat diandaikan sebagai tubuh manusai yang setiap bagian saling mendukung. Pendidikan dalam perspektif Struktural Fungsional diandaikan sebagai ruang sosialisasi,. Sosialisasi adalah proses untuk menciptakan generasi baru yang akan mempelajari pengetahuan, perilaku, dan nilai-nilai yang mereka butuhkan sebagai warga negara yang produktif.
 Teori struktural, menekankan pada fungsi peran dari struktur sosial yangmenekankan pada konsensus dalam suatu masyarakat. Struktur itu sendiri berarti suatu sistem yang terlembagakan dan saling berkaitan. Kaitannya dengan pendidikan, Talcot Parson mempunyai pandangan terhadap fungsi sekolah diantaranya:
a.       Sekolah sebagai sarana sosialisasi. Dimana sekolah mengubah orientasikekhususan ke universalitas salah satunya yaitu mainset selain mewarisi budayayang ada juga membuka wawasan baru terhadap dunia luar. Selain itu jugamengubah alokasi seleksi (sesuatu yang diperoleh bukan dengan usaha sepertihubungan darah, kerabat dekat, dll) ke peran dewasa yang diberikan penghargaan berdasarkan prestasi yang sesungguhnya. 
b.      Sekolah sebagai seleksi dan alokasi dimana sekolah memberikan motivasi-motivasi prestassi agar dapat siap dalam dunia pekerjaan dan dapat dialokasikan bagi mereka yang unggul.
c.       Sekolah memberikan kesamaan kesempatan. Suatu sekolah yang baik pastinya memberikan kesamaan hak dan kewajiban tanpa memandang siapa dan bagaimana
Pada prinsipnya Teori fungsionalis, menekankan kepada keteraturan (order) dan mengabaikan konflik dan perubahan dalam masyarakat. Sebagaimana menurut Talcot Parsons, bahwa teori fungsional struktural konsep utamanya pada fungsi, disfungsi, fungsi laten,fungsi manifest, dan keseimbangan (equiliblium). Secara ekstrim penganut teori ini beranggapan bahwa semua peristiwa dan semua struktur adalah fungsional bagi suatu masyarakat. Dengan demikian pada tingkat tertentu seperti adanya peperangan, ketidaksamaan sosial, kemiskinan, diperlukan oleh suatu masyarakat.
Pandangan teori fungsional struktural versi Parsons dalam memahami fenomena sosial, antara lain: (1) konsep kultur, dipandang sebagai sistem simbol yang terpola, teratur yang menjadi orientasi para individu untuk bertindak, berpribadi, bersosialisasi dalam sistem sosial. Jadi, kultur akan menjadi faktor eksternal untuk menekan pola tindakan individu dalam kelompok; (2) konsep sistem. Sistem memiliki properti keteraturan dan bagian-bagian yang saling tergantung. Sistem cenderung bergerak ke arah mempertahankan keteraturan diri atau keseimbangan hidup dalam kelompok (integrasi sosial). Sistem bergerak dalam proses perubahan yang teratur (evolusi); (3) konsep integrasi. Persyaratan kunci bagi terpeliharanya integrasi sosial di dalam sistem sosial adalah proses internalisasi dan sosialisasi. Dalam proses sosialisasi, nilai dan norma diinternalisasikan (norma dan nilai menjadi bagian dari ‘kesadaran’ aktor), sehingga aktor mengabdi pada kepentingan sistem sebagai suatu kesatuan. Individu atau aktor biasanya menjadi penerima pasif dalam proses sosialisasi; dan (4) konsep perubahan,sosial. Teori ini memandang bahwa: (a) proses perubahan yang terjadi akan mengarah pada keseimbangan (equilibrium) dalam sistem sosial, apabila ada konflik internal, perlu dicari upaya-upaya untuk tetap terjaga keseimbangan dalam sistem; (b) perubahan evolusi masyarakat adalah mengarah kepada ‘peningkatan kemampuan adaptasi’, menuju keseimbangan hidup; dan (c) apabila terjadi perubahan struktural, maka akan terjadi perubahan dalam kultur normatif sistem sosial bersangkutan (perubahan sistem nilai-nilai terpenting) (Sztompka, P. 1993; Ritzer dan Goodman, 2003). Masih banyak ciri pandangan teori fungsional struktural yang dikemukakan para teoritisi fungsional struktural.
Dari beberapa pokok pandangan atau asumsi teori fungsional struktural tersebut dapat diambil pemahaman bahwa sesuatu fenomena sosial dikatakan sebagai masalah (problem) sosial apabila: (a) sesuatu itu bertentangan dengan budaya sebagai sistem simbol yang dijadikan sebagai orientasi untuk berpola perilaku; (b) sesuatu itu menyebabkan terjadinya disintegrasi atau memudarkan jalinan antar unsur dalam suatu sistem; (c) perubahan sosial yang terjadi bersifat revolusioner akan menghasilkan ketidakseimbangan dalam sistem sosial.